Aku selalu memandang sinis terhadap orang-orang yang berdemonstrasi
menentang penjagalan yang dilakukan Israel di Timur Tengah. Terlebih
lagi terhadap orang-orang yang berkata siap untuk melakukan jihad
menghantar nyawa ke sana.
Tetapi bukan berarti aku membela Israel.
Kukatakan padamu, menurutku penguasa Israel adalah memang sungguh
bajingan penjagal manusia. Tetapi alasan yang diberikan oleh sebagian
besar para pendmonstrasi itu, bagaimanapun, kuanggap konyol.
Dengan
dungu dan bebalnya mereka menentang Israel dan apa yang dilakukannya
atas dasar keislaman mereka. Manusia-manusia fanatik yang masih hidup di
zaman kegelapan itu meletakkan agama sebagai dasar dari kehidupannya,
agama sebagai titik sentral dalam memandang dunia, dan agama sebagai
tolok ukurnya terhadap segala sesuatu.
Walaupun sesungguhnya hal
yang sangat goblok itu wajar adanya bagi mereka yang memang dungu
sekaligus bebal. Karena bukan hanya dalam masalah Israel, tetapi dalam
segala hal mereka memang memiliki pandangan yang sangat sempit terhadap
dunia dan kehidupan. Karena kacamata agama yang dikenakannya, karena
kerangkeng agama yang membuat pikiran mereka menjadi kerdil. Dalam lain
kata, agama telah membuat mereka goblok. Dan dengan demikian, tindakan
mereka pun akan menjadi goblok.
Agama bukanlah sesuatu yang
universal, dan agama pun akan berbeda-beda dari manusia yang satu dengan
manusia yang lainnya. Maka ketika agama yang digunakan untuk menilai
dan dijadikan dasar, hasilnya adalah suatu kekacau-balauan. Suatu
kekacau-balauan yang tampak sangat dungu.
Jika seseorang membela
orang-orang dengan agama yang sama dengannya di Timur Tengah (dalam hal
ini Islam), yang saat ini tengah dibantai oleh Israel, dan ia pergi
berjihad ke sana untuk membantai balik orang Israel yang kafir itu; maka
seharusnya suatu waktu dapat-dapat saja terjadi seorang Kristen
membantai dirinya karena orang itu beragama Kristen, sama dengan agama
yang pada umumnya dianut oleh orang Papua - yang mana telah dibantai
oleh orang-orang Islam yang menguasai negara ini.
Sedangkan ada pula
orang Israel yang menentang pembantaian yang dilakukan oleh penguasa
negaranya. Beberapa hari lalu kulihat di TV, Partai Komunis Israel,
lengkap dengan atribut berwarna merah dan lambang palu arit berwarna
kuning, berdemonstrasi menentang perang. Entah apa yang berkecamuk di
kepalamu ketika dua setan-iblis yang begitu kau benci, Israel dan
Komunis, tiba-tiba berpendapat sama denganmu.
Sungguh akan menjadi amburadul jadinya.
Membela
orang-orang yang beragama sama pada suatu waktu, sementara di lain
waktu TKW dari Indonesia pulang dalam keadaan bunting atau bahkan
tinggal mayat karena diperkosa oleh orang Arab yang ternyata juga
beragama sama. Maka mereka akan tinggal diam, menutup mulutnya
erat-erat, dan kalau perlu jangan sampai ada banyak yang tau soal ini.
Toh agama mereka yang memperkosa dan membunuh, sama dengan agama kita.
Jika,
seandainya saja, Israel adalah suatu negara muslim, dan sementara
Lebanon adalah negara yang berisi kaum Zionis Yahudi yang kau benci,
maka apakah - ketika menyaksikan pembantaian seperti yang sekarang
terjadi - kau akan tetap berkoar-koar seperti sekarang - atau kah kau
akan tutup mulut dan sekaligus berteriak "Allahuakbar!" di dalam hati??
Bagaimanapun
juga, akan menjadi konyol sekaligus tolol jika agama yang dijadikan
dasar penilaian. Dan hal itu sungguh sama sekali tidak lebih baik
daripada orang fasis yang meletakkan ras sebagai dasar untuk menilai dan
memandang dunia. Agama dalam hal ini dapat menjadi dan mungkin tengah
menjadi fasis-fasis model baru, yang semakin lama semakin tidak perduli
lagi terhadap hal yang lainnya, dan hanya meletakkan agama sebagai
pemersatu atau pembeda dalam memandang dunia dan kehidupan.
Dan apapun yang menjadi bahan bacotan para ahli-ahli agama, fasis adalah tetap fasis, walaupun dasarnya adalah agama.
Apa
yang dapat kutawarkan sebagai alternatif adalah menggunakan kemanusiaan
untuk menggantikan agama. Kemanusiaan akan selalu sama, baik di Arab
sana, di Israel, di Papua, di Jakarta, di negara-negara bule, di Afrika,
di manapun manusia adalah manusia. Apapun rasnya, apapun agamanya,
kebudayaannya, penampilan fisiknya, kepercayaannya, manusia adalah
manusia. Walaupun kemanusiaan belum dapat sepenuhnya ditegakkan akibat
dari sistem saat ini yang meletakkan kemanusiaan berada entah di nomor
urut keberapa, tetapi kita tetap dapat melihat dunia menggunakan
kemanusiaan. Dan aku dapat menjamin bahwa kau tidak akan lagi tampak
begitu dungu seperti ketika kau menggunakan agama.
Apapun agama
seseorang, apapun kepercayaan dan rasnya, pembantaian seperti yang
dilakukan oleh Israel saat ini tidak dapat dibenarkan. Dan hanya
dibutuhkan kemanusiaan untuk sampai pada kesimpulan itu, kau tidak perlu
membawa-bawa agamamu, rasmu, kebudayaanmu, segala tetek-bengek dari
dirimu. Hanya kemanusiaanmu. Hal-hal lainnya akan membuatmu justru
tampak kerdil, biadab, sekaligus dungu. Dungu sedungu-dungunya.
***
Hal
lainnya adalah, walaupun memang tidak seharusnya berdiam diri saja
ketika melihat pembantaian manusia atas manusia yang dilakukan oleh
Israel, walaupun memang sewajarnya terjadi aksi-aksi demonstrasi
menentang tindakan Israel seperti yang dilakukan oleh seluruh dunia
(walaupun juga akan menjadi benar dan tampak lebih rasional serta cerdas
juga tidak dungu - jika tidak dilakukan atas dasar agama); ada sesuatu
yang terlewatkan oleh orang-orang Indonesia.
Kita mengutuki setiap
apapun yang dilakukan oleh Israel, lebih tepatnya adalah kita mengutuki
Israel dan hal-hal yang berbau Yahudi di manapun dan kapanpun kesempatan
untuk itu ada, seseorang menggunakan kalung berliontin lambang bintang
david pun menjadi perkara, apapun yang berbau Israel dan Yahudi dapat
dalam sekejap menjadi sumber permasalahan di sini.
Segala yang
berbau Israel dan Yahudi serta Zionis menjadi haram, hina, menjijikan,
salah, najis, dan segala yang buruk bagimu. Hampir sama seperti ketika
Komunisme begitu setan-iblis bagimu. Sementara kau tidak pernah tau dan
mau tau apa perbedaan dari Israel, Yahudi, dan Zionisme itu sendiri.
Tetapi,
kembali ke apa yang sebelumnya hendak kukatakan, ada yang terlewatkan
oleh orang-orang Indonesia. Kita lupa mengutuki kebiadaban yang kita
lakukan sendiri. Sementara kita begitu berkonsentrasi dan begitu
bernafsu untuk menyerahkan nyawa dalam perang Jihad melawan setan-setan
Israel, kita telah melupakan bahwa penguasa negara kita sendiri pun
selama berpuluh tahun hingga hari ini tengah memperanjing dan disertai
berkali-kali pembantaian terhadap bangsa Papua.
Kita sendiripun
adalah bangsa biadab yang membiarkan atau bahkan mendukung perampokan
dan pembantaian yang dilakukan oleh negeri ini bersama para tentaranya,
dan terutama dilakukan untuk melanggengkan perampokan yang dilakukan
oleh Freeport.
***
Satu hal yang menjadi kekhawatiranku adalah,
kau akan sekali lagi terjerumus dalam lautan kebebalan dan kedunguan,
ketika kau mengatakan bahwa Freeport pun Yahudi, dan oleh karena itu
mereka bertindak bajingan, dan sepantasnyalah Yahudi Freeport itu
dikutuki. Jika kau berpikiran seperti itu, maka jadilah dirimu tampak
dungu dan bebal.
Maka aku bertanya kepadamu yang berpikiran seperti
itu, siapakah orang-orang penguasa negeri ini yang membiarkan Freeport
merampoki Papua hingga hari ini, bukankah orang-orang yang memiliki
agama yang sama denganmu, bukankah mereka juga pergi ke Mekkah sana
untuk mencantumkan label "haji" di depan namanya? Tetapi mereka dapat
saja bertingkah anjing dan keparat. Persis sama seperti keanjingan dan
kekeparatan yang dapat dilakukan oleh Israel.
Dengan demikian kau
akan berputar-putar dalam lingkaran penuh kedunguan, bolak-balik
mengurusi Yahudi dan Israel dan Zionisme, meletakkan agama sebagai titik
poros kebebalanmu, berproses menjadi fasis-fasis bangsat sejati, serta
sama sekali tidak sanggup dan mau untuk melihat kenyataan dan kebenaran.
Bahwa ini bukanlah tentang apa agama dia dan apa agamamu. Ini adalah
tentang kemanusiaan, bahwa baik orang Papua atau Lebanon, orang Amerika
atau Israel, dan apapun agamanya, adalah tetap manusia. Titik.
Beranikan dirimu. Berhentilah menjadi DUNGU!
Source : Diambil dari sebuah Maillist (penulis unknow)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar