Rabu, Agustus 29

Catatan Tentang Film "Perahu Kertas" by Dewi "Dee" Lestari

Dari semua buku saya yang telah terbit, Perahu Kertas memiliki kedekatan ekstra. Dialah naskah yang paling lama bersama-sama dengan saya. Jauh lebih dulu dari Supernova, Madre, dan seterusnya. Tahun 1996, saya mulai menulis naskah Perahu Kertas. Saat itu, saya masih di bangku kuliah.
Tumbuh besar dengan komik Jepang, cerbung majalah, saya tergila-gila dengan konsep serial. Batin dan otak saya seperti distimulasi ketika harus memikirkan cerita yang berlapis, multigenerasi, dan terjadi dalam kurun waktu yang panjang. Satu waktu, sepotong lirik lagu Indigo Girls, mencuri perhatian saya:
"Maybe that's all that we need, is to meet in the middle of impossibility.
Standing at opposite poles. Equal partners in a mystery."
Secuplik lirik itu membuat saya berhenti dan merenung. Membayangkan dua orang manusia yang bertemu di tengah kemustahilan. Dari sanalah, terlahir sosok Kugy dan Keenan. Persahabatan, cita-cita, keluarga, dan cinta, adalah unsur-unsur yang diramu dalam Perahu Kertas. Unsur-unsur yang ada dalam hidup setiap manusia. Kisah ini adalah kisah transformasi Kugy dan Keenan, yang bersama pusarannya, ikut mentransformasi kehidupan orang-orang di sekitar mereka, termasuk orang-orang yang menyakiti dan mereka sakiti. Di atas permukaan sebuah drama, sesungguhnya yang terjadi adalah pertumbuhan. Pendewasaan. Itu yang saya pahami dari kehidupan ini. Itu pula yang ingin saya ungkapkan lewat Perahu Kertas.
Dari semua buku saya yang telah terbit, Perahu Kertas-lah yang paling pertama saya bayangkan punya format visual. Sejak menuliskannya dari umur belasan tahun, selalu saya bayangkan Kugy dan Keenan kelak akan mengambil "kehidupan" di luar batas kertas dan huruf. Mereka akan menjadi karakter yang berwujud dan bersuara. Persiapan pun diam-diam saya lakukan, termasuk mengikuti workshop penulisan skenario pada tahun 2001. Ketika ditanya kenapa saya ikut, saya menjawab dengan yakin: "Karena suatu hari, saya akan menulis skenario dari cerita yang saya buat sendiri." Dalam benak saya, cerita tersebut tak lain adalah Perahu Kertas.
Karena itulah, tanpa ragu saya menyambut baik tawaran Bentang Pustaka dan Mizan Productions, yang datang bersamaan menawarkan penerbitan buku dan pembuatan film. Syarat yang saya ajukan sederhana, tapi (mungkin) sebetulnya berat (dan banyak): saya ingin menulis skenarionya, saya ingin ikut memilih sutradara, saya ingin ikut memilih cast, dan saya ingin menyumbang lagu untuk soundtrack. Untunglah Mizan Productions tidak mundur karena syarat-syarat tersebut.
Saya sadar harus belajar ulang untuk menulis skenario. Belajar dari nol. Buku-buku teori screenplay pun saya lalap, termasuk mempelajari naskah-naskah film yang menurut saya bagus, dan dari sana 'lah saya mulai "memutilasi" novel saya sendiri. Kugy dan Keenan ikut mentransformasi saya dari penulis fiksi menjadi penulis skenario. Proses yang tidak mudah.

Industri film adalah industri kolektif yang melibatkan begitu banyak suara sebagai pengambil keputusan kreatifnya. Bertolak belakang dengan proses kreatif fiksi yang sepi dan suka-suka sendiri. Saya harus beradaptasi dengan permintaan banyak orang, kompromi dengan banyak hal. Sebuah adegan harus punya unsur praktis, dari segi pemain, lokasi, artistik, jadi tidak semata-mata idealis. Saya belajar luar biasa banyak dari proses ini. Ada kegembiraan, tapi banyak juga keraguan.Bertemu langsung dengan Hanung Bramantyo adalah momen di mana saya menemukan titik yakin pada kali pertama. Muncul intuisi bahwa film ini berada di tangan yang tepat. Sebuah novel yang dijadikan film selalu mengemban beban ekstra besar. Ibarat orang kalah sebelum tempur, film berbasiskan novel sejak detik pertama akan berperang dengan film yang duluan ada di teater khayal pembaca. Mereka punya Kugy sendiri, Keenan sendiri, yang kemungkinan besar tidak pernah bisa persis sama dengan yang kami gambarkan. Hanung tahu itu. Saya tahu itu. Semua pemain pun memahaminya.
Saya dan Hanung cukup sering berdebat dan berdiskusi, hingga sampailah saya pada kesimpulan: ini adalah Perahu Kertas yang berbeda. Sebagai penulis, saya harus rela menanggalkan Perahu Kertas dalam benak Dee, dan mulai mengapresiasi Perahu Kertas dalam benak Hanung Bramantyo dari Dapur Film, dalam benak Chand Parwez dari Starvision, atau Putut Widjanarko dari Mizan Productions. Berbeda bukan berarti salah. Berbeda malah bisa jadi lebih indah. Yang paling penting adalah, kerelaan kita untuk berhenti memerangkannya dengan wujud ideal dalam kepala kita semata dan mulai mengapreasi versi orang lain.
Inilah barangkali yang ingin saya bagi ke pembaca, calon penonton Perahu Kertas versi film. Relakskan benak Anda, mari melihat wujud Perahu Kertas yang mungkin berbeda, tapi simaklah spiritnya. Spirit Perahu Kertas sama dan tidak berubah. Kisah ini bercerita tentang perjalanan hati, transformasi, dari "aku yang memilih" menjadi "aku yang dipilih". Kisah ini adalah refleksi perjalanan kita semua, yang dengan porsi dan waktunya masing-masing, akhirnya belajar berdamai dengan hidup.
Ketika diundang melihat preview pertama kali, dan lagu Perahu Kertas berkumandang di tengah film, saya tak sanggup menahan tangis. Saya menyadari rampungnya sebuah siklus. Diawali dari alam abstrak tempat saya menciptakan kisah Kugy dan Keenan, kini saya duduk sebagai penonton. Membiarkan mereka yang berbicara tentang kisah Perahu Kertas kepada saya. Apa pun parameter kesuksesan yang dipakai untuk menilai film ini kelak, ia telah berhasil menyentuh hati saya. Untuk itu, tergenapilah sudah. Saya akan keluar dari gedung bioskop dengan senyum lebar. 

Source : Catatan tentang-film-perahu-kertas-.html

Senin, Agustus 27

PERAHU KERTAS

akhirnya novel Perahu kertas menjadi sebuah Film juga dengan judul yang sama, sebagai seorang yang telah lama mengikuti novel karangan Dee, saya pribadi berharap Film dan Novel berkesinambungan dan paling tidak cerita di film mendekati apa yang saya imajinasikan selama ini.
Berikut Teaser nya :

“aku gak mau sepuluh, dua puluh tahun dari hari ini, aku masih terus-terusan memikirkan orang yg sama. bingung di antara penyesalan dan penerimaan.”
Dee, Perahu Kertas

Selasa, Juli 3

Jika semua agama benar, Tuhan tampaknya masih belajar

Tuhan yang begitu “galak” di kitab Taurat atau Perjanjian Lama, dan memuliakan hari Sabtu, secara drastis melunak, menjadi begitu penuh maaf dan cinta kasih di Perjanjian Baru, dan memajukan hari baik menjadi Minggu. Eh, balik lagi menjadi tegas dalam Al-Qur’an, dan malah memundurkan penghulu hari menjadi Jumat.

Maka jika ketiga agama ini benar (dari sisi Tuhan), bukankah Ia kelihatannya sedang belajar, atau seperti sindiran iklan minyak kayu putih, Tuhan kok coba-coba?

Bukan mengada-ada, tapi begitulah adanya, sebuah revisi beruntun dari Tuhan, dalam wadah tiga agama “langit”; Yahudi, Kristen, dan Islam. Lihat sosok Tuhan yang begitu “galak” dalam kisah anak-anak Yehuda, seperti direkam Perjanjian Lama berikut.

Tetapi Er, anak sulung Yehuda itu, adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia.

Gitu doang, no further explanation. Pokoknya di mata Tuhan dia jahat, titik. Sepeninggal Er, Tamar menjanda. Seperti antrian pewaris tahta Kerajaan Inggris, Onan, adik si Er, mendapat titah, “You’re next!”

Tapi tunggu dulu. Onan bukan lelaki tanpa harga diri. Dia tak sudi melanjutkan cinta yang terbengkalai. “Emangnya gue cowok apaan,” begitu kira-kira batinnya. Tapi Onan nan moderat tak memilih jalan frontal. Lagian, meski mengaku ngga minat, toh ia ereksi juga, dan menyelinap ke tubuh hangat mantan kakak iparnya itu. Tapi mencucurkan protein berisi benih kehidupan itu? Nggak layaw!

Zaman itu belum mengenal alat kontrasepsi, seperti kondom (apalagi kondominium). Apa boleh buat, mencegah sel nan lincah itu berenang dan berlabuh di ovarium, metode manual berbasis coitus interruptus pun dilakoni.

Sedapnya hayo, pembuahan no no! (Konon dari nama si Onan ini asal muasalnya kata onani, cara paling “hemat” menuntaskan hasrat). Tapi Onan lupa, tak ada yang luput dari tatapan tajam penguasa alam. Merasa diakal-akali, tak buang waktu, Tuhan memencet tombol Ctrl+Alt+Del sekaligus, dan nyawa Onan kontan shut down!

Beneran ngga bisa ngebayangin, andai hari ini Tuhan masih “seemosional” itu. Mungkin setiap pagi, petugas kepolisian akan menemukan mayat lelaki telanjang, dengan kondom masih terpasang di “belalai”-nya. Yep, eksekusi mati bagi mereka yang cuma mau enaknya tapi ogah konsekuensinya.

Gimana ya “perasaan” Tuhan mendengar tagline iklan karet tipis dengan aneka rasa itu: “Gunakan kondom, bukti Anda bertanggung jawab”. Yee, bukannya lebih pas, “Gunakan kondom, jika ngga mau repot-repot bertanggung jawab”.

Banyak kisah tragis bin brutal lainnya dalam Perjanjian Lama. Adalah cerita biasa, jika seluruh negeri luluh lantak dihantam bencana, hanya karena kesalahan sebagian atau malah seorang penduduknya.

Singkat cerita, dalam perjanjian lama, Tuhan tak segan-segan turun tangan langsung membunuh mereka yang di mata-Nya berdosa, atau dengan dingin menghabisi Onan cs., para pelakon “tembak luar” itu. (Ngga perlu footnote untuk frase ini kan?)

*****

ABAD bertukar. Tuhan seolah menyadari, seolah lho, selama ini Dia agak terlalu “temperamental”. Bak insan nan bertambah usia, Dia menjadi lebih arif dan lembut.

Dia tak lagi main turun tangan, berepot-repot nongkrong di Gunung Sinai, tawar-menawar dengan Musa dan kaumnya. Tuhan memilih cara lain, dengan memanifestasikan diri, hidup dalam diri Yesus. Tuhan memanusia, dan seorang anak manusia menuhan.

Waduh, kali ini, the soft and tender side-Nya Tuhan benar-benar mendominasi Perjanjian Baru. Memang tidak serta merta Yesus membatalkan hukum lama nan cruel, old fashioned way-nya Perjanjian Lama. Dia bahkan menggaransi, satu noktah pun taurat tak akan diedit.

Hanya saja ia menyampaikan penawaran lain, a completely different way to make deal with the evil. “Ya, ya, emang dulu ada ketentuan mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki. Pokoknya the absolut law of revenge. Elu jual, gue beli. Tapi apa iya harus gitu. Survei membuktikan, kekerasan hanya akan mengundang kekerasan baru. Gimana kalo kamu malah nyodorin pipi kanan kalo dapat tamparan di pipi kiri. Jadi perihnya balance.

Kalo dia maksa minta kaos dalemmu, kasidaah ama jaket kulitnya sekalian. Dia maksa jalan dua tiga kilo, tantang dia long march napak tilas sekalian. Intinya, putus siklus kekerasan itu, dengan mengedepankan cinta kasih.

Yesus juga secara “tidak langsung” membuat hukum rajam terlihat jadi kehilangan urgensinya. Sekali lagi dia tidak membatalkan pasal rajam, seperti kerjaan Mahkamah Konstitusi membatalkan UU made in Senayan.

Ketika seorang wanita yang secara sah dan meyakinkan terbukti berzinah, diseret ke hadapan dia, dengan cantik Yesus memberi sebuah tantangan retorik, “Yang merasa tak punya dosa di antara kalian, monggo melemparkan batu untuk pertama kali”.

Massa tersipu-sipu, balik kanan, bubar jalan. Kini hanya tinggal Yesus dan si wanita pezina, yang tentu saja terpesona. “Mana mereka? Pada bubar kan? Ga ada yang berani mengeksekusimu kan?” katanya lembut. “Aku pun nggak bakal menghukummu. Udah sana, jangan ulangi lagi.”

Hayo, mulai deh pikiran nakalnya muncul. Berarti Yesus merasa dirinya berdosa juga dong, sehingga nggak pantes menghukum. Nggaklah… Narasi Al Qur’an apalagi Alkitab, tak pernah menceritakan setitikpun dosa Al Masih. Yang jelas, kekna susahlah ngebayangin, Yesus simbol kelembutan, kasih, keteduhan, segala yang gemulai deh pokoknya, bisa dengan beringas melempari si wanita, sampai tewas mengenaskan di TKP, dan kini sedang dibawa ke RSU terdekat untuk diotopsi. (Bahasa berita kriminal nih…)

Pesan dari kisah ini – mohon izin saya interpretasikan – Yesus mengakui bahwa Allah memang sudah menetapkan hukum yang keras itu. “Tapi kalau Dia memilih memaafkanmu, so what?”

Selain itu, cukup banyak bukti lain, di mana Tuhan melunak dalam Perjanjian Baru. Halal haram soal makanan, yang tadinya ketat dalam Perjanjian Lama, ibarat iklan tarif telepon selular, sekarang dilonggarkan habis.

“Semua yang masuk ke mulut, hajar saja. Yang haram adalah yang keluar, baik muntahan makanan yang ditolak sistem pencernaan, maupun sampah-sampah yang keluar dari hati: fitnah, dusta, dan kawan-kawannya”.

Maka di kampung kami di Tanah Batak sana, lahirlah ungkapan yang termasyhur itu. “Semua yang berkaki empat akan kumakan, kecuali meja. Itu pun karena keras kali”.

Tuntaskah? Sepertinya tidak. Saya tidak mengatakan tuhan berzodiak Gemini, sehingga sering bimbang dan berubah pikiran. Tuhan sepertinya menganulir lagi pembukaan kran kebebasan dan cinta kasih itu. “Mempercayakan segalanya kepada nurani dan cinta kasih di hati manusia, tampaknya berpotensi disalahgunakan. Hukum Tuhan harus kembali ditegakkan. Reinforcement the Law of the Almighty, Now!” Gitu kira-kira jalan “pikiran-Nya”.

Nah, ibarat Dekrit Presiden yang memberlakukan kembali UUD 1945, Al Qur’an pun turun, merevitaliasi sebagian besar hukum-hukum Taurat seperti tertulis di Perjanjian Lama. Babi kembali haram, sejoli mesum kembali dirajam, dan tak ada cerita dosa sudah ditebus. Tebus sendiri sono, pay it yourself.

*****

ITULAH rute panjang hukum Tuhan, di mana anak-anak Ibrahim memilih halte kebenarannya masing-masing. Bagi orang Yahudi, taurat adalah kebenaran final. Maka Yesus adalah nabi palsu, konon lagi Muhammad. Perjanjian Baru adalah kitab tiruan, buah interpretasi sok funky dan serba mudah atas hukum kanon Tuhan.

Berikutnya Kristen, meyakini segalanya telah paripurna dengan pengorbanan Yesus. Ending apalagi yang lebih indah daripada ketika Tuhan sendiri merelakan anak tunggalnya menebus dosa manusia. Oh, so sweet, God Himself, memberi teladan, contoh nyata apa itu cinta, apa itu pengorbanan, dengan merelakan anaknya “terbunuh” dengan cara yang lebih kejam dari imajinasi seorang pembunuh berantai.

kubayangkan, sekali lagi ini cuma imajinasiku ya, tuhan bapa menahan sebah di dada, ketika dari surga sana ia menatap yesus, anak semata wayang itu, merintih makin lemah di kayu salib. tenggorokannya sang putra kering, darah mengucur dari kepala yang bermahkota duri.

dan di puncak pedih itu, the beloved child merintih lemah, “mengapa kau tinggalkan aku”. ah, mungkin ada sebuah momen, ketika tuhan nyaris saja membatalkan peristiwa itu.

nyaris saja dari bibirnya mendesis titah kepada para malaikat, “save him, bring him to life, f**k ‘em humanbeing, they’re just soilmade, they’re not deserve such sacrifice. i love my sweet child too much, look what i have done to him”.

untuk apa drama yang terlalu tragis ini dipentaskan? sebuah panggung derita yang terus menguras air mata hingga beribu tahun sesudahnya. masa sih tuhan bapa, yang kuasanya melebih segala, ngga bisa sekadar mengirimkan semacam formula anestesi, bius untuk mengurangi rasa sakit, sehingga yesus bisa mengakhiri drama itu dengan lebih mudah. meski akhirnya terkulai di kayu salib, paling tidak bibirnya bisa menyisakan senyum. bukan wajah penuh luka, mimik yang mencatat perih itu.

ya bisa aja dunk. tuhan kok dilawan. jangankan ngebius, membatalkan semua itu juga bisa kok. kalo dipikir, kuasa pencatatan dosa ada di tangan dia. otoritas pengampunan juga prerogatif dia. menghapus dosa, baginya (mestinya) semudah memformat sebuah harddisk. emangnya siapa yang mau protes kehendak tuhan?

tapi dugaanku, dengan berempati pada “logika” iman kristen nih ceritanya, demi mengajari kita cinta dan pengorbanan, tuhan sengaja memberi contoh nyata. tak tanggung, sedemikian cintanya dia kepada manusia, anaknya sendiri yang tunggal, dikorbankannya.

Lagi-lagi tak semua sepakat pada ending nan menguras emosi ini. “Itu cerita gombal,” kata suara parau dari jantung jazirah Arab itu. Tuhan itu mahasuci dari “menghamili” anak orang, mahasuci dari beranak dan diperanak.

Yes, Tuhan dengan jurus kun fa yakun-Nya memang membuat Maryam hamil, tapi bukan menghamilinya, sehingga anak yang lahir itu kemudian berhak disebut sebagai putra-Nya yang kudus. Plis deh, jangan mengkonsepsikan Tuhan seperti manusia. Laaisa kamislihi syaiun, tak ada yang semisal dengan-Nya.

Pola itu berlanjut. Islam tidak menampik keseluruhan ajaran sebelumnya. Yesus, the son of Mary, is always respected in a very special way. Dia Kalamullah, kata-kata Allah, Ruhullah, ruh dari Allah, alaihissalam, yang keselamatan selalu atasnya, ulul azmi alias utusan-utusan Tuhan yang kelas satu, dan seterusnya.

Islam pun kemudian melancarkan tuduhan yang sangat klasik, bahwa memposisikan Yesus sebagai anak Tuhan, sebagai satu unsur kesatuan trinitas bersama dengan Bapa dan Roh Kudus, adalah distorsi. Perjanjian Baru sekarang ini, bagi komunitas muslim, adalah kitab yang sudah terkontaminasi.

Konon the genuine verse-nya tinggal dikit, semisal Yohannes (17:3). Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Kalo dicermati, potongan ayat ini memang mirip betul dengan syahadat, gerbang pertama dan utama masuk ke dalam keyakinan Islam; Bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, satu-satunya Allah yang benar, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya.

Sementah penolakan terhadap keilahian Yesus pula, dunia Islam membantah cerita penyaliban di bukit Golgata itu. Bagi kaum muslimin, Tuhan itu majikan yang bertanggung jawab, yang nggak bakalan membiarkan satupun utusan-Nya, yang bekerja untuk kemuliaan-Nya, apalagi yang sekelas Yesus, dibunuh dengan cara sadis gitu. LAPD aja concern banget dengan keselamatan personelnya.

Tuhan diyakini sudah menggelar a rescue operation dengan sandi faceoff terhadap Sang Messiah, menyelamatkan Isa Almasih dari murka penghakiman manusia durjana. Yes, God saved Yesus, dan mensubstitusinya dengan Yudas, si murid pembangkang.

Jadi ngga ada itu dosa ditebus, emangnya resep dokter. Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Salah disiksa, benar dimanja, tapi pintu tobat selalu terbuka. Bagaimana antum rasa, fair enough kan? Subhanallah!

*****

LAGI-LAGI, berhentikan proses konstruksi kebenaran dengan datangnya Islam, yang dibawa Muhammad, anak yatim buta huruf yang didapuk sebagai anugerah bagi seluruh semesta itu? Buat kaum muslimin, pasti. Tapi di luar itu sejarah masih berlanjut, berulang dan berulang.

Di belakang Muhammad sudah ada pula Mirza Ghulam Ahmad, dengan Ahmadiyahnya, Moshaddeq dengan Al Qiyadahnya, dan entah apa pula lagi yang akan muncul besok.

Bagaimana sebelnya Yahudi melihat Yesus “mengedit-edit” ajaran Taurat mereka, begitu pula Kristen gondok melihat Islam yang menurun-nurunkan pangkat Yesus dari anak tuhan jadi “sekadar” nabi. Semurka itu pula orang Islam melihat Ahmadiyah menciutkan kapasitas Muhammad dari nabi penutup menjadi sekadar rasul yang masih harus disambung ajarannya.

Sejarah terus berulang, dan di atas sana, Tuhan seperti terus belajar, “berusaha” menemukan format terbaik bagi manusia.

Yahudi berteriak kepada orang Kristen, “Hei yang kreatif dikit dong. Silakan buat agama baru, tapi ngga usah bawa-bawa agama kami, trus dikutak-katik!”

Kristen pun agak terganggu ketika menyadari dalam ajaran Islam Yesus ternyata “dibawa-bawa”. Lihat bagaimana dunia Kristen, terutama Katolik gusar, melihat mendiang Paus Yohannes Paulus II dengan takjim mencium Al-Qur’an, kitab yang menentang habis-habisan keilahian Yesus, sebuah item iman paling penting dalam ajaran Kristen.

“Ngapain Islam bawa-bawa Yesus, sok-sok ngoreksi ajaran Kristen pula. Buat yang baru dong, ngapain berbasis agama orang, dan hadir bak editor yang membuat revisi,” begitu kira-kira protesnya.

Nyadar nggak, kaum muslimin pun hari-hari ini, meneriakkan kegusaran Yahudi 2000 tahun lalu itu, kepada Ahmadiyah, agama baru yang membawa-bawa ajaran Islam. “Silakan buat agama baru, tapi jangan bawa-bawa Islam”.

*****

MEREKA yang merasa terganggu itu sepertinya lupa, sedang berlangsung proses belajar dan riset bersinambungan, menemukan format ideal, rute terbaik bagi perjalanan iman.

Tapi apa iya sih, Tuhan sedang belajar, terus mencoba-coba formula iman? Lantas mau dikemanai itu julukan Mahatahu, bahwa dia bisa melihat ke dasar hati, bisa membawa kata-kata yang tak sempat terucap.

Masa sih Tuhan trial end error, ngga keren banget! Konon lagi bila melihat fakta, betapa dampak dari revisi “kebenaran” yang bolak-balik itu, manusia dulu, kini, dan nanti, terjebak kepada perpecahan dan permusuhan.

Bukankah kesan bahwa Tuhan pun sedang belajar dan mencoba-coba ini mestinya tak perlu ada, jika saja Adam dulu dititipi sebuah ajaran kebenaran yang final, the comprehensive guidance for all humanbeing. Biar kecerdasan dan progresivitas peradaban kita yang secara bertahap makin memahami ajaran yang final dan tunggal itu, bukannya Tuhan jadi kelihatan gimanaaa gitu bolak balik menyesuaikan sabda-Nya dengan daya serap akal dan imajinasi manusia.

Source : Sebuah Blog ( penulis unknow)

Berhentilah menjadi DUNGU!

Aku selalu memandang sinis terhadap orang-orang yang berdemonstrasi menentang penjagalan yang dilakukan Israel di Timur Tengah. Terlebih lagi terhadap orang-orang yang berkata siap untuk melakukan jihad menghantar nyawa ke sana.
Tetapi bukan berarti aku membela Israel. Kukatakan padamu, menurutku penguasa Israel adalah memang sungguh bajingan penjagal manusia. Tetapi alasan yang diberikan oleh sebagian besar para pendmonstrasi itu, bagaimanapun, kuanggap konyol.
Dengan dungu dan bebalnya mereka menentang Israel dan apa yang dilakukannya atas dasar keislaman mereka. Manusia-manusia fanatik yang masih hidup di zaman kegelapan itu meletakkan agama sebagai dasar dari kehidupannya, agama sebagai titik sentral dalam memandang dunia, dan agama sebagai tolok ukurnya terhadap segala sesuatu.
Walaupun sesungguhnya hal yang sangat goblok itu wajar adanya bagi mereka yang memang dungu sekaligus bebal. Karena bukan hanya dalam masalah Israel, tetapi dalam segala hal mereka memang memiliki pandangan yang sangat sempit terhadap dunia dan kehidupan. Karena kacamata agama yang dikenakannya, karena kerangkeng agama yang membuat pikiran mereka menjadi kerdil. Dalam lain kata, agama telah membuat mereka goblok. Dan dengan demikian, tindakan mereka pun akan menjadi goblok.
Agama bukanlah sesuatu yang universal, dan agama pun akan berbeda-beda dari manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Maka ketika agama yang digunakan untuk menilai dan dijadikan dasar, hasilnya adalah suatu kekacau-balauan. Suatu kekacau-balauan yang tampak sangat dungu.
Jika seseorang membela orang-orang dengan agama yang sama dengannya di Timur Tengah (dalam hal ini Islam), yang saat ini tengah dibantai oleh Israel, dan ia pergi berjihad ke sana untuk membantai balik orang Israel yang kafir itu; maka seharusnya suatu waktu dapat-dapat saja terjadi seorang Kristen membantai dirinya karena orang itu beragama Kristen, sama dengan agama yang pada umumnya dianut oleh orang Papua - yang mana telah dibantai oleh orang-orang Islam yang menguasai negara ini.
Sedangkan ada pula orang Israel yang menentang pembantaian yang dilakukan oleh penguasa negaranya. Beberapa hari lalu kulihat di TV, Partai Komunis Israel, lengkap dengan atribut berwarna merah dan lambang palu arit berwarna kuning, berdemonstrasi menentang perang. Entah apa yang berkecamuk di kepalamu ketika dua setan-iblis yang begitu kau benci, Israel dan Komunis, tiba-tiba berpendapat sama denganmu.
Sungguh akan menjadi amburadul jadinya.
Membela orang-orang yang beragama sama pada suatu waktu, sementara di lain waktu TKW dari Indonesia pulang dalam keadaan bunting atau bahkan tinggal mayat karena diperkosa oleh orang Arab yang ternyata juga beragama sama. Maka mereka akan tinggal diam, menutup mulutnya erat-erat, dan kalau perlu jangan sampai ada banyak yang tau soal ini. Toh agama mereka yang memperkosa dan membunuh, sama dengan agama kita.
Jika, seandainya saja, Israel adalah suatu negara muslim, dan sementara Lebanon adalah negara yang berisi kaum Zionis Yahudi yang kau benci, maka apakah - ketika menyaksikan pembantaian seperti yang sekarang terjadi - kau akan tetap berkoar-koar seperti sekarang - atau kah kau akan tutup mulut dan sekaligus berteriak "Allahuakbar!" di dalam hati??
Bagaimanapun juga, akan menjadi konyol sekaligus tolol jika agama yang dijadikan dasar penilaian. Dan hal itu sungguh sama sekali tidak lebih baik daripada orang fasis yang meletakkan ras sebagai dasar untuk menilai dan memandang dunia. Agama dalam hal ini dapat menjadi dan mungkin tengah menjadi fasis-fasis model baru, yang semakin lama semakin tidak perduli lagi terhadap hal yang lainnya, dan hanya meletakkan agama sebagai pemersatu atau pembeda dalam memandang dunia dan kehidupan.
Dan apapun yang menjadi bahan bacotan para ahli-ahli agama, fasis adalah tetap fasis, walaupun dasarnya adalah agama.
Apa yang dapat kutawarkan sebagai alternatif adalah menggunakan kemanusiaan untuk menggantikan agama. Kemanusiaan akan selalu sama, baik di Arab sana, di Israel, di Papua, di Jakarta, di negara-negara bule, di Afrika, di manapun manusia adalah manusia. Apapun rasnya, apapun agamanya, kebudayaannya, penampilan fisiknya, kepercayaannya, manusia adalah manusia. Walaupun kemanusiaan belum dapat sepenuhnya ditegakkan akibat dari sistem saat ini yang meletakkan kemanusiaan berada entah di nomor urut keberapa, tetapi kita tetap dapat melihat dunia menggunakan kemanusiaan. Dan aku dapat menjamin bahwa kau tidak akan lagi tampak begitu dungu seperti ketika kau menggunakan agama.
Apapun agama seseorang, apapun kepercayaan dan rasnya, pembantaian seperti yang dilakukan oleh Israel saat ini tidak dapat dibenarkan. Dan hanya dibutuhkan kemanusiaan untuk sampai pada kesimpulan itu, kau tidak perlu membawa-bawa agamamu, rasmu, kebudayaanmu, segala tetek-bengek dari dirimu. Hanya kemanusiaanmu. Hal-hal lainnya akan membuatmu justru tampak kerdil, biadab, sekaligus dungu. Dungu sedungu-dungunya.
***
Hal lainnya adalah, walaupun memang tidak seharusnya berdiam diri saja ketika melihat pembantaian manusia atas manusia yang dilakukan oleh Israel, walaupun memang sewajarnya terjadi aksi-aksi demonstrasi menentang tindakan Israel seperti yang dilakukan oleh seluruh dunia (walaupun juga akan menjadi benar dan tampak lebih rasional serta cerdas juga tidak dungu - jika tidak dilakukan atas dasar agama); ada sesuatu yang terlewatkan oleh orang-orang Indonesia.
Kita mengutuki setiap apapun yang dilakukan oleh Israel, lebih tepatnya adalah kita mengutuki Israel dan hal-hal yang berbau Yahudi di manapun dan kapanpun kesempatan untuk itu ada, seseorang menggunakan kalung berliontin lambang bintang david pun menjadi perkara, apapun yang berbau Israel dan Yahudi dapat dalam sekejap menjadi sumber permasalahan di sini.
Segala yang berbau Israel dan Yahudi serta Zionis menjadi haram, hina, menjijikan, salah, najis, dan segala yang buruk bagimu. Hampir sama seperti ketika Komunisme begitu setan-iblis bagimu. Sementara kau tidak pernah tau dan mau tau apa perbedaan dari Israel, Yahudi, dan Zionisme itu sendiri.
Tetapi, kembali ke apa yang sebelumnya hendak kukatakan, ada yang terlewatkan oleh orang-orang Indonesia. Kita lupa mengutuki kebiadaban yang kita lakukan sendiri. Sementara kita begitu berkonsentrasi dan begitu bernafsu untuk menyerahkan nyawa dalam perang Jihad melawan setan-setan Israel, kita telah melupakan bahwa penguasa negara kita sendiri pun selama berpuluh tahun hingga hari ini tengah memperanjing dan disertai berkali-kali pembantaian terhadap bangsa Papua.
Kita sendiripun adalah bangsa biadab yang membiarkan atau bahkan mendukung perampokan dan pembantaian yang dilakukan oleh negeri ini bersama para tentaranya, dan terutama dilakukan untuk melanggengkan perampokan yang dilakukan oleh Freeport.
***
Satu hal yang menjadi kekhawatiranku adalah, kau akan sekali lagi terjerumus dalam lautan kebebalan dan kedunguan, ketika kau mengatakan bahwa Freeport pun Yahudi, dan oleh karena itu mereka bertindak bajingan, dan sepantasnyalah Yahudi Freeport itu dikutuki. Jika kau berpikiran seperti itu, maka jadilah dirimu tampak dungu dan bebal.
Maka aku bertanya kepadamu yang berpikiran seperti itu, siapakah orang-orang penguasa negeri ini yang membiarkan Freeport merampoki Papua hingga hari ini, bukankah orang-orang yang memiliki agama yang sama denganmu, bukankah mereka juga pergi ke Mekkah sana untuk mencantumkan label "haji" di depan namanya? Tetapi mereka dapat saja bertingkah anjing dan keparat. Persis sama seperti keanjingan dan kekeparatan yang dapat dilakukan oleh Israel.
Dengan demikian kau akan berputar-putar dalam lingkaran penuh kedunguan, bolak-balik mengurusi Yahudi dan Israel dan Zionisme, meletakkan agama sebagai titik poros kebebalanmu, berproses menjadi fasis-fasis bangsat sejati, serta sama sekali tidak sanggup dan mau untuk melihat kenyataan dan kebenaran. Bahwa ini bukanlah tentang apa agama dia dan apa agamamu. Ini adalah tentang kemanusiaan, bahwa baik orang Papua atau Lebanon, orang Amerika atau Israel, dan apapun agamanya, adalah tetap manusia. Titik.
Beranikan dirimu. Berhentilah menjadi DUNGU!

Source : Diambil dari sebuah Maillist (penulis unknow)

Langit Makin Mendung

Cerpen yang bikin heboh umat ini, Ki Panji Kusmin dituduh telah melakukan penodaan terhadap agama karena mempersonifikasikan Tuhan, Nabi Muhammad, dan Malaikat Jibril. Tanpa ampun lagi H.B. Jassin selaku penanggung jawab majalah itu dibawa ke pengadilan dan dipaksa untuk mengungkap siapa sebenarnya Ki Panji Kusmin. H.B. Jassin menolak untuk mengungkap jati diri Ki Panji Kusmin. Untuk itu ia dituntut Pengadilan Tinggi Medan dan divonis in absentia berupa kurungan selama satu tahun dan masa percobaan dua tahun. Dan sampai saat ini pun identitas dari Ki Panji Kusmin tidak terungkap dan dibawa hingga ke liang lahat oleh H.B. Jassin.)

LAMA-LAMA mereka bosan juga dengan status pensiunan nabi di surgaloka. Petisi dibikin, mohon (dan bukan menuntut) agar pensiunan-pensiunan diberi cuti bergilir turba ke bumi, yang konon makin ramai saja.
“Refreshing sangat perlu. Kebahagiaan berlebihan justru siksaan bagi manusia yang biasa berjuang. Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir-bibir kami sudah pegal-pegal kejang memuji kebesaran-Mu; beratus tahun tanpa henti.”
Membaca petisi para nabi, Tuhan terpaksa menggeleng-gelengkan kepala, tak habis pikir pada ketidakpuasan di benak manusia…. Dipanggillah penanda-tangan pertama: Muhammad dari Medinah, Arabia. Orang bumi biasa memanggilnya Muhammad saw..
“Daulat, ya Tuhan.”
“Apalagi yang kurang di surgaku ini? Bidadari jelita berjuta, sungai susu, danau madu, buah apel emas, pohon limau perak. Kijang-kijang platina, burung-burung berbulu intan baiduri. Semua adalah milikmu bersama, sama rasa sama rata!”
“Sesungguhnya bahagia lebih dari cukup, bahkan tumpah ruah melimpah-limpah.”
“Lihat rumput-rumput jamrud di sana. Bunga-bunga mutiara bermekaran.”
“Kau memang mahakaya. Dan manusia alangkah miskin, melarat sekali.”
Tengok permadani sutra yang kau injak. Jubah dan sorban cashmillon yang kau pakai. Sepatu Aladin yang bisa terbang. Telah kuhadiahkan segala yang indah-indah!”
Muhammad tertunduk, terasa betapa hidup manusia hanya jalinan-jalinan penyadong sedekah dari Tuhan. Alangkah nista pihak yang selalu mengharap belas kasihan. la ingat, waktu sowan ke surga dulu dirinya hanya sekeping jiwa telanjang.
“Apa sebenamya kau cari di bumi? Kemesuman, kemunafikan, kelaparan, tangis, dan kebencian sedang berkecamuk hebat sekali.”
“Hamba ingin mengadakan riset,” jawabnya lirih.
“Tentang apa?”
“Akhir-akhir ini begitu sedikit umat hamba yang masuk surga.”
“Ahk, itu kan biasa. Kebanyakan mereka dari daerah tropis kalau tak salah?”
“Betul, kau memang maha tahu.” “Kemarau kelewat panjang di sana. Terik matahari terlalu lama membakar otak-otak mereka yang bodoh.” Kacamata model kuno dari emas diletakkan di atas meja dari emas pula.
“Bagaimana, ya Tuhan?”
“Umatmu banyak kena tusukan siar matahari. Sebagian besar berubah ingatan, lainnya pada mati mendadak.”
“Astaga! Betapa nasib mereka kemudian?”
“Yang pertama asyik membadut di rumah-rumah gila.”
“Dan yang mati?”
“Ada stempel Kalimat Syahadat dalam paspor mereka. Terpaksa raja iblis menolak memberikan visa neraka untuk orang-orang malang itu.”
“Heran, tak pernah mereka mohon suaka ke sini!” dengan kening sedikit mengerut.
“Tentara neraka memang telah merantai kaki-kaki mereka di batu nisan masing-masing.”
“Apa dosa mereka gerangan? Betapa malang nasib umat hamba, ya Tuhan!”
“Jiwa-jiwa mereka kabarnya mambu Nasakom. Keracunan Nasakom!”
“Nasakom? Racun apa itu, ya Tuhan! Iblis laknat mana meracuni jiwa mereka. (Muhammad saw. nampak gusar sekali. Tinju mengepal). Usman, Umar, Ali! Asah pedang kalian tajam-tajam!”
Tuhan hanya mengangguk-angguk, senyum penuh pengertian –penuh kebapaan.
“Carilah sendiri fakta-fakta yang otentik. Tentang pedang-pedang itu kurasa sudah kurang laku di pasar loak pelabuhan Jedah. Pencipta Nasakom sudah punya bom atom, kau tahu!”
“Singkatnya, hamba diizinkan turba ke bumi?” (Ia tak takut bom atom).
“Tentu saja. Mintalah surat jalan pada Sulaiman yang bijak di sekretariat. Tahu sendiri, dirasai Botes polisi-polisi dan hansip-hansip paling sok iseng, gemar sekali ribut-ribut perkara surat jalan.”
“Tidak bisa mereka disogok?”
“Tidak, mereka lain dengan polisi dari bumi. Bawalah Jibril serta, supaya tak sesat!”
“Daulat, ya Tuhan.” (Bersujud penuh sukacita).
***
Sesaat sebelum berangkat, surga sibuk sekali. Timbang terima jabatan Ketua Kelompok Grup Muslimin di surga, telah ditandatangani naskahnya. Abubakar tercantum sebagao pihak penerima. Dan masih banyak lainnya.
“Wahai yang terpuji, jurusan mana yang paduka pilih?” Jibril bertanya takzim.
“Ke tempat jasadku diistirahatkan; Medinah, kau ingat? Ingin kuhitung jumlah musafir-musafir yang ziarah. Di sini kita hanya kenal dua macam angka, satu dan tak berhingga.”
Seluruh penghuni surga mengantar ke lapangan terbang. Lagu-lagu padang pasir terdengar merayu-rayu, tapi tanpa tari perut bidadari-bidadari. Entah dengan berapa juta lengan Muhammad saw. harus berjabat tangan.
Nabi Adam as. sebagai pinisepuh tampil di depan mikropon. Dikatakan bahwa pengorbanan Muhammad saw. merupakan lembaran baru dalam sejarah manusia. Besar harapan akan segera terjalin saling pengertian yang mendalam antara penghuni surga dan bumi.
“Akhir kata saudara-saudara, hasil peninjauan on the spot oleh Muhammad saw. harus dapat dimanfaatkan secara maksimal nantinya. Ya, saudara-saudara para suci! Sebagai kaum arrive surga, kita tak boleh melupakan perjuangan saudara-saudara kita di bumi melawan rongrongan iblis-iblis di neraka beserta antek-anteknya. Kita harus bantu mereka dengan doa-doa dan sumbangan-sumbangan pikiran yang konstruktif, agar mereka scmua mau ditarik ke pihak Tuhan; sekian. Selamat jalan Muhammad. Hidup persatuan Rakyat Surga dan Bumi.”
“Ganyang!!!” Berjuta suara menyahut serempak.
Muhammad segera naik ke punggung buroq-kuda sembrani yang dulu jadi tunggangannya waktu ia mikraj.
Secepat kilat buroq terbang ke arah bumi, dan Jibril yang sudah tua terengah-engah mengikuti di belakang.
Mendadak, sebuah sputnik melayang di angkasa hampa udara.
“Benda apa di sana?” Nabi keheranan.
“Orang bumi bilang sputnik! Ada tiga orang di dalamnya, ya Rasul.”
“Orang? Menjemput kedatanganku kiranya?” (Gembira).
“Bukan, mereka justru rakyat negara kapir terbesar di bumi. Pengikut Marx dan Lenin yang ingkar Tuhan. Tapi pandai-pandai otaknya.”
“Orang-orang malang; semoga Tuhan mengampuni mereka. (Berdoa). Aku ingin lihat orang-orang kapir itu dari dekat. Ayo, buroq!”
Buroq melayang deras menyilang arah sputnik mengorbit. Dengan pedang apinya Jibril memberi isyarat sputnik berhenti sejenak.
Namun sputnik Rusia memang tak ada remnya. Tubrukan tak terhindarkan lagi. Buroq beserta sputnik hancur jadi debu; tanpa suara, tanpa sisa. Kepala botak-botak di lembaga aeronetika di Siberia bersorak gembira.
“Diumumkan bahwa sputnik Rusia berhasil mencium planet yang tak dikenal. Ada sedikit gangguan komunikasi …,” terdengar siaran radio Moskow.
Muhammad dan Jibril terpental ke bawah, mujur mereka tersangkut di gumpalan awan yang empuk bagai kapas.
“Sayang, sayang. Neraka bertambah tiga penghuni lagi.” Berbisik sedih.
Sejenak dilontarkan pandangannya ke bawah. Hatinya tiba-tiba berdesir ngeri.
“Jibril, neraka lapis ke berapa di sana gerangan?”
“Paduka salah duga. Di bawah kita bukan neraka tapi bagian bumi yang paling durhaka. Jakarta namanya. Ibukota sebuah negeri dengan seratus juta rakyat yang malas dan bodoh. Tapi ngakunya sudah bebas B.H.”
“Tak pernah kudengar nama itu. Mana lebih durhaka, Jakarta atau Sodomah dan Gomorah?”
“Hampir sama.”
“Ai, hijau-hijau di sana bukankah warna api neraka?”
“Bukan, paduka! Itulah barisan sukwan dan sukwati guna mengganyang negara tetangga, Malaysia.”
“Adakah umatku di Malaysia?”
“Hampir semua, kecuali Cinanya tentu.”
“Kalau begitu, kapirlah bangsa di bawah ini!”
“Sama sekali tidak, 9o persen dari rakyatnya orang Islam juga.”
“90 persen,” wajah nabi berseri, “90 juta umatku! Muslimin dan muslimat yang tercinta. Tapi tak kulihat mesjid yang cukup besar, di mana mereka bersembahyang Jumat?”
“Soal 90 juta hanya menurut statistik bumiawi yang ngawur. Dalam catatan Abubakar di surga, mereka tak ada sejuta yang betul-betul Islam!”
“Aneh. Gilakah mereka?”
“Tidak, hanya berubah ingatan. Kini mereka akan menghancurkan negara tetangga yang se-agama!”
“Aneh!”
“Memang aneh.”
“Ayo Jibril, segera kita tinggalkan tempat terkutuk ini. Aku terlalu rindu pada Medinah!”
“Tidak inginkah paduka menyelidiki sebab-sebab keanehan itu?”
“Tidak, tidak di tempat ini!” jawabnya tegas, “rencana risetku di Kairo.”
“Sesungguhnya pdukalah nabi terakhir, ya Muhammad?”
“Seperti telah tersurat di kitab Allah,” sahut Nabi dengan rendah hati.
“Tapi bangsa di bawah sana telah menabikan orang lain lagi.”
“Apa peduliku dengan nabi palsu!”
“Umat paduka hampir takluk pada ajaran nabi palsu!”
“Nasakom, jadi tempat inilah sumbernya. Kau bilang umatku takluk, nonsense!” Kegusaran mulai mewarnai wajah Muhammad.
“Ya, Islam terancam. Tidakkah paduka prihatin dan sedih?” terdengar suara Iblis, disambut tertawa riuh rendah.
Nabi tengadah ke atas.
“Sabda Allah tak akan kalah. Betapapun Islam, ia ada dan tetap ada, walau bumi hancur sekalipun!”
Suara Nabi mengguntur dahsyat, menggema di bumi, di lembah-lembah, di puncak-puncak gunung, di kebun-kebun karet, dan berpusar-pusar di laut lepas.
Gaungnya terdengar sampai ke surga, disambut takzim ucapan serentak:
“Amien, amien, amien.”
Neraka guncang, iblis-iblis gemetar menutup telinga. Guntur dan cambuk petir bersahut-sahutan.
“Naiklah, mari kita berangkat ya Rasulullah!”
Muhammad tak hendak beranjak dari awan tempatnya berdiri. Hatinya bimbang pedih dan dukacita. Wajahnya gelap, segelap langit mendung di kiri-kanannya.
Jibril menatap penuh tanda tanya, namun tak berani bertanya.
***
Musim hujan belum datang-datang juga. Di Jakarta banyak orang kejangkitan influensa, pusing-pusing dan muntah-muntah.
Naspro dan APC sekonyong-konyong melonjak harga. Jangan dikata lagi pil vitamin C dan ampul penstrip.
Kata orang, sejak pabriknya diambil alih bangsa sendiri, agen-agen Naspro mati kutu. Hanya politik-politik Cina dan tukang-tukang catut orang dalam leluasa nyomoti jatah lewat jalan belakang.
Koran sore Warta Bahari menulis: Di Bangkok 1000 orang mati kena flu, tapi terhadap flu Jakarta Menteri kesehatan bungkem.
Paginya Menteri Kesehatan yang tetap bungkem dipanggil menghadap Presiden alias PBR.
“Zeg, Jenderal. Flu ini bikin mati orang apa tidak?”
“Tidak, Pak.”
“Jadi tidak berbahaya?”
“Tidak Pak. Komunis yang berbahaya, Pak!”
“Akh, kamu. Komunisto-phobi, ya!”
Namun, meski tak berbahaya flu Jakarta tak sepandai polisi-polisinya. Flu tak bisa disogok, serangannya membabi buta tidak pandang bulu. Mulai dari pengemis-pelacur-nyonya menteri-sampai presiden diterjang semena-mena.
Pelayan-pelayan istana geger, menko-menko menarik muka sedih karena gugup menyaksikan sang PBR muntah-muntah seperti perempuan bunting muda.
Sekejap mata dokter-dokter dikerahkan, kawat telegram sibuk minta hubungan rahasia ke Peking.
“Mohon ssegera dikirim tabib-tabib Cina yang kesohor, Pemimpin Besar kami sakit keras. Mungkin sebentar lagi mati.”
Kawan Mao di singgasananya tcrsenyum-senyum, dengan wajah penuh welas-asih ia menghibur kawan seporos yang sedang sakratulmaut.
“Semoga lekas sembuh. Bersama ini rakyat Cina mengutus beberapa tabib dan dukun untuk memeriksa penyakit Saudara.”
Terhampir obat kuat akar jinsom umur seribu tahun. Tanggung manjur. Kawan nan setia: tertanda Mao. (Tidak lupa, pada tabib-tabib dititipkan pula sedikit oleh-oleh untuk Aidit).
Rupanya berkat khasiat obat kuat, si sakit berangsur-angsur sembuh. Sebagai orang beragama tak lupa mengucap sjukur pada Tuhan yang telah mengaruniai seorang sababat sebaik kawan Mao.
Pesta diadakan. Tabib-tabib Cina dapat tempat duduk istimewa. Untuk sejenak tuan rumah lupa agama, hidangan daging babi dan kodok ijo disikat tandas-tandas. Kyai-kyai yang hadir tersenyum-senyum kecut.
“Saudara-saudara. Pers nekolim gembar-gembor, katanya Soekarno sedang sakit keras. Bahkan hampir mati katanya. (Hadirin tertawa. Menertawakan kebodohan nekolim). Wah, saudara-saudara. Mereka itu selak kemudu-kemudu melihat musuh besarnya mati. Kalau Soekarno mati mereka pikir Indonesia ini akan gampang mereka iles-iles, mereka kuasai seenak udelnya sendiri, seperti negaranya Tengku.
“Padahal (menunjuk dada) lihat badan saya, saudara-saudara, Soekarno tetap segar-bugar. Soekarno belum mau mati. (Tepuk tangan gegup gempita, tabib-tabib Cina tak mau ketinggalan). Insya Allah, saya belum mau menutup mata sebelum proyek nekolim ‘Malaysia’ hancur lebur jadi debu. (Tepuk tangan lagi).”
Acara bebas dimulai. Dengan tulang-tulangnya yang tua Presiden menari lenso bersama gadis-gadis daerah Menteng Spesial diundang.
Patih-patih dan menteri-menterinya tak mau kalah gaya. Tinggal hulubalang-hulubalang cemas melihat Panglima Tertinggi bertingkah seperti anak kecil urung disunat.
Dokter pribadinya berbisik.
“Tak apa. Baik buat ginjalnya, biar kencing batu PYM tidak kumat-kumat.”
“Menyanyi! Menyanyi dong Pak!” Gadis-gadis merengek.
“Baik, baik. Tapi kalian mengiringi, ya!” Bergaya burung unta.
Siapa bilang Bapak dari Blitar
Bapak ini dari Prambanan
Siapa bilang rakyat-
Malaysia yang kelaparan …!
“Mari kita bergembira….” Nada-nada sumbang bau champagne.
Di sudut gelap istana tabib Cina berbisik-bisik dengan seorang menteri.
“Gembira sekali nampaknya dia.”
“Itu tandanya hampir mati.”
“Mati?”
“Ya, mati. Paling tidak lumpuh. Kawan Mao berpesan sudah tiba saatnya.”
“Tapi kami belum siap.”
“Kapan lagi? Jangan sampai keduluan klik Nasution.”
“Tunggu saja tanggal mainnya!”
“Nah, sampai ketemu lagi!” (Tabib Cina tersenyum puas.)
Mereka berpisah.
Mendung makin tebal di langit, bintang-bintang bersinar guram satu-satu. Pesta diakhiri dengan lagu langgam ‘Kembang Kacang’ dibawakan nenek-nenek kisut 68 tahun.
“Kawan lama Presiden!” bisik orang-orang.
Kemudian tamu-tamu permisi pamit. Perut kenyangnya mendahului kaki-kaki setengah lemas; beberapa orang muntah-muntah mabuk di halaman parkir.
Sendawa mulut mereka berbau alkohol. Sebentar-sebentar kiai mengucap ‘alhamdulillah’ secara otomatis.
Menteri-menteri pulang belakangan bersama gadis-gadis, cari kamar sewa. Pelayan-pelayan sibuk kumpulkan sisa-sisa makanan buat oleh-oleh anak istri di rumah.
Anjing-anjing istana mendengkur kekenyangan-mabuk anggur Malaga. Pengemis-pengemis di luar pagar istana memandang kuyu, sesali nasib kenapa jadi manusia dan bukan anjing!
***
Desas-desus Soekarno hampir mati lumpuh cepat menjalar dari mulut ke mulut. Meluas seketika, seperti loncatan api kebakaran gubuk-gubuk gelandangan di atas tanah milik Cina.
Sampai juga ke telinga Muhammad dan Jibril yang mengubah diri jadi sepasang burung elang. Mereka bertengger di puncak menara emas bikinan pabrik Jepang. Pandangan ke sekeliling begitu lepas bebas.
“Allahuakbar, nabi palsu hampir mati.” Jibril sambil mengepakkan sayap.
“Tapi ajarannya tidak. Nasakom bahkan telah mengoroti jiwa prajurit-prajurit. Telah mendarah daging pada sebagian kiai-kiaiku,” mendengus kesal.
“Apa benar yang paduka risaukan?”
“Kenapa kau pilih bentuk burung elang ini dan bukan manusia? Pasti kita akan dapat berbuat banyak untuk umatku!”
“Paduka harap ingat; di Jakarta setiap hidung harus punya kartu penduduk. Salah kena garuk razia gelandangan!”
“Lebih baik sebagai ruh, bebas dan aman.”
“Guna urusan bumi wajib kita jadi sebagian dari bumi.”
“Buat apa?”
“Agar kebenaran tidak telanjang di depan kita.”
“Tapi tetap di luar manusia?”
“Ya, untuk mengikuti gerak hati dna pikiran manusia justru sulit bila satu dengan mereka.”
“Aku tahu!”
“Dan dalam wujud yang sekarang mata kita tajam. Gerak kita cepat!”
“Akh, ya. Kau betul, Tuhan memberkatimu Jibril. Mari kita keliling lagi. Betapapun durhaka, kota ini mulai kucintai.”
Sepasang elang terbang di udara senja Jakarta yang berdebu menyesak dada dan hidung mereka asap knalpot dari beribu mobil.
Di atas Pasar Senen tercium bau timbunan sampah menggunung, busuk dan mesum.
Kemesuman makin keras terbau di atas Stasiun Senen. Penuh ragu Nabi hinggap di atas atap seng, sementara Jibril membuat lingkaran manis di atas gerbong-gerbong kereta Daerah planet.
Pelacur-pelacur dan sundal-sundal asyik berdandan. Bedak-bedak penutup bopeng, gincu merah murahan dan pakaian pengantin bermunculan.
Di bawah-bawah gerbong, beberapa sundal tua mengerang –lagi palang merah– kena raja singa. Kemaluannya penuh borok, lalat-lalat pesta mengisap nanah. Senja terkapar menurun, diganti malam bertebar bintang di sela-sela awan. Pemuda tanggung masuk kamar mandi berpagar sebatas dada, cuci lendir. Menyusul perempuan gemuk penuh panu di punggung, kencing dan cebok. Sekilas bau jengkol mengambang. Ketiak berkeringat amoniak, masih main akrobat di ranjang reot.
Di kamar lain, bandot tua asyik… di atas perut perempuan muda 15 tahun. Si perempuan … dihimpit sibuk cari … dan … lagu melayu.
Hansip repot-repot …
“Apa yang Paduka renungi.”
“Di negeri dengan rakyat Islam terbesar, mereka begitu bebas berbuat cabul!” Menggeleng-gelengkan kepala.
“Mungkin pengaruh adanya Nasakom! Sundal-sundal juga soko guru revolusi,” kata si Nabi palsu.
“Ai, binatang hina yang melata. Mereka harus dilempari batu sampai mati. Tidakkah Abu Bakar, Umar dan Usman teruskan perintahku pada kiai-kiai di sini? Berzina, laangkah kotor bangsa ini. Batu, mana batu!!”
“Batu-batu mahal di sini. Satu kubik 200 rupiah, sayang bila hanya untuk melempari pezina-pezina. Lagipula….”
“Cari di sungai-sungai dan di gunung-gunung!”
“Batu-batu seluruh dunia tak cukup banyak guna melempari pezina-pezinanya. Untuk dirikan masjid pun masih kekurangan, Paduka lihat?”
“Bagaimanapun tak bisa dibiarkan!” Nabi merentak.
“Sundal-sundal diperlukan di negeri ini ya, Rasul.”
“Astaga! Sudahkah Iblis menguasai dirimu Jibril?”
“Tidak Paduka, hamba tetap sadar. Dengarlah penuturan hamba. Kelak akan lahir sebuah sajak, begini bunyinya :
Pelacur-pelacur kota Jakarta
Naikkan tarifmu dua kali
dan mereka akan kelabakan
mogoklah satu bulan
dan mereka akan puyeng
lalu mereka akan berzina
dengan istri saudaranya
“Penyair gila! Cabul!”
“Kenyataan yang bicara. Kecabulan terbuka dan murah justru membendung kecabulan laten di dada-dada mereka.” Muhammad membisu dengan wajah bermuram durja.
Di depan toko buku ‘Remaja’ suasana meriak kemelut, ada copet tertangkap basah. Tukang-tukang becak mimpin orang banyak menghajarnya ramai-ramai. Si copet jatuh bangun minta ampun meski hati geli menertawakan kebodohannya sendiri: hari naas, ia keliru jambret dompet kosong milik kopral sedang preman kosong milik Kopral setengah preman. Hari naas selalu berarti tinju-tinju, tendangan sepatu dan cacian tak menyenangkan baginya. Tapi itu rutin–. Polisi-polisi Senen tak acuh melihat tontonan sehari-hari: orang mengeroyok orang sebagai kesenangan. Mendadak sesosok baju hijau muncul, menyelak di tengah. Si copet diseret keluar dibawa entah kemana.
Orang-orang merasa kehilangan mainan kesayangannya, melongo.
“Dia jagoan Senen; anak buah Syafii, raja copet!”
“Orang tadi mencuri tidak?” Pandangan Nabi penuh selidik.
“Betul. Orang sini menyebutnya copet atau jambret.”
“Kenapa mereka hanya sekali pukul si tangan panjang? Mestinya dipotong tangan celaka itu. Begitu perintah Tuhan kepadaku dulu.”
“Mereka tak punya pedang, ya Rasul.”
“Toh, bisa diimpor!”
“Mereka perlu menghemat devisa. Impor pedang dibatasi untuk perhiasan kadet-kadet Angkatan Laut.”
“Lalu dengan apa bangsa ini berperang?”
“Dengan omong kosong dan bedil-bedil utangan dari Rusia.”
“Negara kapir itu?”
“Ya, sebagian lagi dari Amerika. Negara penyembah harta dan dolar.”
“Sama jahat keduanya pasti!”
“Sama baik dalam mengaco dunia dengan kebencian.”
“Dunia sudah berubah gila!” Mengeluh.
“Ya, dunia sudah tua!”
“Padahal Kiamat masih lama.”
“Masih banyak waktu ya, Nabi!”
“Banyak waktu untuk apa?”
“Untuk mengisi kesepian kita di sorga.”
“Betul, betul, sesungguhnya tontonan ini mengasyikkan, meskipun kotor. Akan kuusulkan dipasang TV di sorga.”
Kedua elang terbang di gelap malam.
“Jibril! Coba lihat! Ada orang berlari-lari anjing ke sana! Hatiku tiba-tiba merasa tak enak.”
“Hamba berperasaan sama. Mari kita ikuti dia, ya Muhammad.”
Sebentar kemudian di atas sebuah pohon pinang yang tinggi mereka bertengger. Mata tajam mengawasi gerak-gerik orang berkaca mata.
“Siapa dia? Mengapa begitu gembira?”
“Jenderal-jenderal menamakannya Durno, Menteri Luar Negeri merangkap pentolan mata-mata.”
“Sebetulnya siapa menurut kamu?”
“Dia hanya Togog. Begundal raja-raja angkara murka.”
“Ssst! Surat apa di tangannya itu?”
“Dokumen.”
“Dokumen?”
“Dokumen Gilchrist, hamba dengar tercecer di rumah Bill Palmer.”
“Gilchrist? Bill Palmer? Kedengarannya seperti nama kuda!”
“Bukan, mereka orang-orang Inggris dan Amerika.”
“Ooh.”
Di bawah sana Togog melonjak kegirangan. Sekali ini betul-betul makan tangan, nemu jimat gratis. Kertas kumal mana ia yakin bakal bikin geger dunia. Tak henti-henti diciuminya jimat wasiat itu.
Angannya mengawang, tiba-tiba senyum sendiri.
“Sejarah akan mencatat dengan tinta emas: Sang Togog berhasil telanjangi komplotan satria-satria pengaman Baginda Raja.”
Terbayang gegap gempita pekik sorak rakyat pengemis di lapangan Senayan.
“Hidup Togog, putra mahkota! Hidup Togog, calon baginda kita!”
Sekali lagi ia senyum-senyum sendiri. Baginda Tua hampir mati, raja muda togog segera naik takhta, begitu jenderal selesai-selesai dibikin mati kutunya.
Pintu markas BPI ditendang keras-keras tiga kali. Itu kode!
“Apa kabar Yang Mulia Togog?”
“Bikin banyak-banyak fotokopi dari dokumen ini! Tapi awas, top secret. Jangan sampai bocor ke tangan dinas-dinas intel lain. Lebih-lebih intel AD.”
“Tapi ini otentik apa tidak, Pak Togog? Pemeriksaan laboratoris…?”
“Baik, baik Yang Mulia” Pura-pura ketakutan.
“Nah, kan begitu. BPI-Togog harus disiplin dan taat tanpa reserve pada saya tanpa hitung-hitung untung atau rugi. Semua demi revolusi yang belum selesai!”
“Betul, Pak, eh, Yang Mulia.”
“Jadi kapan selesai?”
“Seminggu lagi, pasti beres.”
“Kenapa begitu lama?”
“Demi security, Pak. Begitu saya baca dari buku-buku komik detektif.”
“Bagus, kau rajin meng-up-grade otak. Soalnya begini, saya mesti lempar kopi-kopi itu di depan hidung para panglima waktu meeting dengan PBR. Gimana?”
“Besok juga bisa, asal uang lembur…,” sembari membuat gerak menghitung uang dengan jari-jarinya.
Togog meluruskan seragam-dewannya. Dan gumpalan uang puluhan ribu keluar dari kantong belakang. Sambil tertawa senang ditepuk-tepuknnya punggung pembantunya.
“Diam! Diam! Dokumen ini bakal bikin kalang kabut Nekolim dan antek-anteknya dalam negeri.”
“Siapa mereka?”
“Siapa lagi? Natuurlijk de— ‘our local army friends’. Jelas toh?”
Sepeninggal Togog jimat ajaib ganti berganti dibaca jin-jin liar atau setan-setan bodoh penyembah Dewa Mao nan agung. Mereka jadi penghuni markas BPI secara gelap sejak bertahun-tahun.
Syahdan desas-desus makin laris seperti nasi murah. Rakyat jembel dan kakerlak-kakerlak baju hijau rakus berebutan, melahap tanpa mengunyah lagi.
“Soekarno hampir mati lumpuh, jenderal kapir mau coup, bukti-bukti lengkap di tangan partai!”
***
Sayang, ramalan dukun-dukun Cina sama sekali meleset. Soekarno tidak jadi lumpuh, pincang sedikit cuma. Dan pincang tak pernah bikin orang mati. Tanda kematian tak kunjung tampak, sebaliknya Soekarno makin tampak muda dan segar.
Kata orang dia banyak injeksi H-3, obat pemulih tenaga kuda. Kecewalah sang Togog melihat baginda raja makin rajin pidato, makin gemar menyanyi, makin getol menari dan makin giat menggilir ranjang isteri-isteri yang entah berapa jumlahnya.
Hari itu PBR dan Togog termangu-mangu berdua di Bogor. Briefing dengan Panglima-panglima berakhir dengan ganjalan-ganjalan hati yang tak lampias.
“Jangan-jangan dokumen itu palsu, hai Togog.” PBR marah-marah.
“Akh, tak mungkin Pak. Kata pembantu saya, jimat tulen.”
“Tadinya sudah kau pelajari baik-baik?”
“Sudah pak. Pembantu-pembantu saya bilang, siang malam mereka putar otak dan bakar kemenyan.”
“Juga sudah ditanyakan pada dukun-dukun klenik?”
“Lebih dari itu, jailangkung bahkan memberi gambaran begitu pasti!”
“Apa katanya?”
“Biasa, de bekendste op vrije voeten gesteld, altjid…!”
“Akh, lagi-lagi dia. Nasution sudah saya kebiri dengan embel-embel –. Dia tidak berbahaya lagi.
“Ya, tapi jailangkung bilang CIA yang mendalangi ‘our local army friends’.”
“Gilchrist toh orang Inggris, kenapa CIA dicampuradukkan!”
“Begini, Pak. Mereka telah berkomplot. Semua gara-gara kita– kawan Mao buka front baru dengan konfrontasi Malaysia.”
“Dunia tahu, Hanoi bisa bernapas sekarang. Paman Ho agak bebas dari tekanan Amerika.”
“Kenapa begitu?”
“Formil kita berhadapan dengan Inggris-Malaysia. Sesungguhnya Amerika yang kita rugikan: mereka harus memecah armadanya jadi dua. Sebagian tetap mengancam RRT lainnya mengancam kita!”
“Mana lebih besar yang mengancam kita atau RRC?” Ada suara cemas.
“Kita. Itu sebabnya AD ogah-ogahan mengganyang Malaysia. Mereka khawatir Amerika menjamah negeri ini. “
Soekarno tunduk. Keterangan Togog membuatnya sadar telah ditipu mentah-mentah sahabat Cinanya. Kendornya tekanan Amerika berarti biaya pertahanan negeri Cina dapat ditransfer ke produksi. Dan Indonesia yang terpencil jadi keranjang sampah raksasa buat menampung barang-barang rongsokan Cina yang tak laku di pasaran.
Kiriman bom atom –upah mengganyang Malaysia– tak ditepati oleh Chen-Yi yang doyan omong kosong. Tiba-tiba PBR naik pitam.
“Togog, panggil Duta Cina kemari. Sekarang!”
“Persetan dengan tengah malam. Bawa serdadu-serdadu pengawal itu semua kalau kamu takut.”
Seperti maling kesiram air kencing togog berangkat di malam dingin kota bogor. Angan-angan untuk seranjang dengan gundiknya yang di Cibinong buyar. Dua jam kemudian digiring masuk seorang Cina potongan penjual bakso. Dia cuma pakai piyama, mulutnya berbau angciu dan keringatnya berbau daging babi.
“Ada apa malam-malam panggil saya? Ada rejeki nih!” Duta Cina itu sudah pintar ngomong Indonesia. Dan PBR senang pada kepintarannya.
“Betul, kawan. Malam ini juga kau harus pulang ke negeri leluhur. Dan jangan kembali kemari sebelum dibekali oleh-oleh dari Chen Yi. Ngerti tuh?”
“Buat apa bom atom, sih?” Duta Cina mengingat kembali instruksi dari Peking, “tentaramu belum bisa merawatnya. Jangan-jangan malah terbengkalai jadi besi tua dan dijual ke Jepang. Akh, sahabat Ketua Mao; lebih baik kau bentuk angkatan kelima. Bambu runcing lebih cocok untuk rakyatmu.”
“Gimana ini, Togog?”
“Saya khawatir bambu runcing lebih cocok untuk bocorkan isi perut Cina WNA disini,” Togog mendongkol.
“Jelasnya?” tanya PBR dan Duta Cina serentak.
“Amerika mengancam kita gara-gara usul pemerintah kamu supaya Malaysia diganyang. Ngerti, tidak?” (Cina itu mengangguk). Dan sampai sekarang pemerintahmu cuma nyokong dengan omong kosong!”
“Kami tidak memaksa, Bung! Kalau mau stop konfrontasi, silakan.”
“Tidak mungkin!” PBR meradang, betul or tidak, Gog?”
“Akur, pak! Konfrontasi mesti jalan terus. Saya jadi punya alasan berbuat nekad.”
“Nekad bagaimana?” Cina menyipitkan matanya yang sudah sipit.
“Begitu Amerika mendarat akan saya perintahkan potong leher semua Cina-cina WNA.” Menggertak.
“Ah, jangan begitu kawan Haji Togog. Anda kan orang beragama!”
“Masa bodoh. Kecuali kalau itu bom segera dikirim.”
“Baik, baik. Malam ini saya berangkat.”
PBR mau tak mau kagum akan kelihaian Togog. Mereka berangkul-rangkulan.
“Kau memang Menteri Luar Negeri terbaik di dunia.”
“Tapi Yani jenderal terbaik, kata Bapak kemarin.”
“Memang ada apa rupanya? Apa dia ogah-ogahan juga ganyang malaysia?”
“Maaf PYM hal ini kurang jelas. Faktanya keadaan berlarut-larut hanya menguntungkan RRC.”
“Yani ragu-ragu?”
“Begitulah. Sebab PKI ikut jadi sponsor pengganyangan. Sedangkan mayoritas AD anggap aksi ini tak punya dasar.”
“Lalu CIA dengan ‘our local army friends’ nya mau apa?”
“Konfrontasi harus mereka hentikan. Caranya mana kita bisa tebak? Mungkin coba-coba membujuk dulu lewat utusan diplomat penting. Kalau gagal cara khas CIA akan mereka pakai.”
“Bagaimana itu?”
“Unsur-unsur penting dalam konfrontasi akan disingkirkan. Soekarno-Subandrio-Yani dan PKI harus lenyap!”
Sang PBR mengangguk-angguk karena ngantuk dan setuju pada analisia buatan Togog.
Hari berikutnya berkicaulah Togog di depan rakyat jembel yang haus, penjual obat pinggir jalan, ia berpidato. Ia sering lupa mana propaganda dan mana hasil gubahan sendiri.
“Saudara-saudara, di saat ini ada bukti-bukti lengkap di tangan PYM Presiden PBR tentang usaha Nekolim untuk menghancurkan kita. CIA telah… dengan barisan algojonya yang bercokol dalam negeri untuk menyingkirkan musuh-musuh besarnya. Waspadalah saudara-saudara. Soekarno-Subandrio-Yani dan rakyat progresif-revolusioner lainnya akan mereka musnahkan dari muka bumi. Tiga orang ini justru dianggap paling berbahaya untuk majikan mereka di London dan Washington.
“Tapi jangan gentar, Saudara-saudara! Saya sendiri tidak takut demi Presiden/PBR dan demi revolusi yang belum selesai. Saya rela berkorban jiwa raga. Sekali lagi tetaplah waspada. Sebab algojo-algojo tadi ada di antara Saudara-saudara.”
Rakyat bersorak kegirangan. Bangga punya Wakil Perdana Menteri berkaliber Togog yang tidak gentar mati. Sejenak mereka luput perut-perut lapar ditukar dengan kegemasan dan geram meluap-luap atas kekurangajaran nekolim.
Rapat diakhiri dengan membakar orang-orangan berbentuk Tengku sambil menari-nari. Bendera-bendera Inggris dan Amerika yang susah payah dijahit perempuan-perempuan mereka di rumah, diinjak-injak dan dirobek penuh rasa kemenangan dan kepuasan luar biasa.
Setelah bosan mereka bubar satu-satu. Tinggal pemuda-pemudanya yang melantur kesana kemari, bergaya tukang copet. Mereka ingin mencari tahu algojo-algojo Nekolim yang dikatakan Togog barusan.
Di Harmoni segerombolan tukang becak asyik kasak-kusuk, bicara politik. Kalau di Rusia Lenin bilang koki juga mesti melek politik, di Jakarta tukang-tukang becak juga keranjingan ngomong politik.
“Katanya Dewan Jenderal mau coup. Sekarang Yani mau dibunuh, mana yang benar?”
“Dewan Jenderal siapa pemimpinnya?”
“Pak Yani, tentu.”
“Jadi Yani akan bunuh Yani. Gimana, nih?”
“Aaah! Sudahlah. Kamu tahu apa.” Suara sember.
“Untung Menteri Luar Negeri kita jago. Rencana nekolim bisa dibocorin.”
“Dia nggak takut mati?”
“Tentu saja kapan dia sudah puas hidup. Berapa perawan dia ganyang!” suara sember menyela lagi.
Yang lain-lain tidak heran atau marah. Seakan sudah jamak Menteri mengganyang perawan dan isteri orang.
***
Pengganyangan Malaysia yang makin bertele-tele segera dilaporkan PBR ke Peking.
“Kawan-kawan seporos, harap bom atom segera dipaketkan, jangan ditunda-tunda. Tentara kami sudah mogok berperang, jenderal-jenderal asyik ngobyek cari rejeki dan prajurit-prajurit sibuk ngompreng serta nodong.
Jawaban dari Peking tak kunjung datang. Yang datang membanjir hanya tekstil, korek api, senter, sandal, pepsodent, tusuk gigi dan barang-barang lain bikinan cina.
Soekarno tiba-tiba kejatuhan ilham akan pentingnya berdiri di atas kaki sendiri. Rakyat yang sudah lapar dimarahi habis-habisan karena tak mau makan lain kecuali beras.
“Padahal saudara-saudara. Saya tahu banyak sekali makanan bervitamin selain beras. Ubi, jagung, singkong, tikus, bekicot, dan bahkan kadal justru obat eksim yang paling manjur. Saya sendiri dikira makan nasi tiap hari? Tidak! PBR-mu ini cuma kadang-kadang makan nasi sekali sehari. Bahkan sudah sebulan ini tidak makan daging. Tanya saja Jenderal Saboer!”
“Itu Pak Leimena di sana (menunjuk seorang kurus kering). Dia lebih suka makan sagu daripada nasi. Lihat Pak Seda bertubuh tegap (menunjuk seorang bertubuh kukuh mirip tukang becak), dia tak bisa kerja kalau belum sarapan jagung.”
Paginya ramai-ramai koran memuat daftar menteri-menteri yang makan jagung. Lengkap dengan sekalian potretnya.
Sayang, rakyat sudah tidak percaya lagi, mereka lebih percaya pada pelayan-pelayan istana. Makan pagi Soekarno memang bukan nasi, tapi roti panggang bikinan Perancis di HI. Guna mencegah darah tingginya kumat, dia memang tak makan daging. Terpaksa hanya telor goreng setengah matang dicampur sedikit madu pesanan dari Arab sebagai pengiring roti. Menyusul buah apel kiriman Kosygin dari Moskow.
Namun rakyat tidak heran atau marah. Seakan sudah jamak seorang presiden harus bohong dan buka mulut seenaknya. Rakyat Indonesia rata-rata memang pemaaf dan baik hati. Kebohongan dan kesalahan pemimpin selalu disambut dengan dada lapang.
Hati mereka bagai mencari, betapa pun langit makin mendung, sinarnya tetap ingin menyentuh bumi. ***
(Dikutip dari: Pleidoi Sastra: Kontroversi Cerpen Langit Makin Mendung Kipandjikusmin: 17-41, 2004, MELIBAS: Jakarta).

Jangan Main - Main (Dengan Kelaminmu)




" Komitmen dapat berubah setiap saat, ikatan tidak mengikat, dan logika tidak punya validitas. "

By Djenar Maesa Ayu
Book : JANGAN MAIN - MAIN (DENGAN KELAMINMU)

Senin, Juli 2

Absolute Entity




" Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia. "


By : Ahmad Wahib 
Source : http://ahmadwahib.com

Redemtion Of Time